by

Pemimpin Negara Harus Orang Indonesia Asli, Menyesatkan Semangat Kebangsaan

gambar-peta-indonesiaJAKARTA – Wacana yang digulirkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bahwa Presiden dan Wakil Presiden RI “Harus Orang Indonesia Asli” dinilai beberapa kalangan akademisi Universitas Sam Ratulangi Manado (Unsrat) Manado sebagai isu murahan dan dapat melemahkan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme.

“Jika wacana itu dibiarkan menggelinding, dapat melemahkan kebangsaan Indonesia dan merusak nasionalisme. Wacana itu murahan, tidak mendidik, dan dapat menyesatkan semangat kebangsaan Indonesia,” kata Akademisi Fakultas Hukum Unsrat Manado, Stefan Obaja Voges.

Sebelumnya, Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Arsul Sani mengusulkan agar Calon Presiden dan Wakil Presiden mendatang adalah orang Indonesia asli seperti yang termuat dalam UUD 1945 yang diamandemen. Dia mengatakan PPP ingin agar frasa “Orang Indonesia Asli” dikembalikan ke batang tubuh pasal 6 UUD 1945.

“Banyak masyarakat di luar PPP yang juga mengusulkan agar Capres dan Cawapres orang Indonesia asli,” kata Asrul Sani kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (7/10). Pernyataan itu langsung mengundang reaksi pro dan kontra berbagai kalangan.

Akademisi Fakultas Hukum Unsrat lainnya, Toar Palilingan menilai usulan atau wacana itu sudah usang jika dikaitkan dengan dinamika hukum dan tatanan politik modern dewasa ini. “Wacana itu tidak relevan lagi dengan dinamika hukum dan politik modern Indonesia saat ini,” kata Palilingan.

Dia menambahkan, wacana ini akan menyesatkan di kemudian hari dan dapat menjadi bola panas dan liar. “Bangsa-bangsa lain telah sedemikian maju dan menghapus sekat-sekat perbedaan kultural, kita masih harus bolak balik dengan asli dan palsu,” katanya.

Stefan Obaja Voges justru mempertanyakan frasa “orang Indonesia asli” yang menjadi acuan. “Kalau benar ada orang Indonesia asli, berarti ada orang Indonesia palsu. Siapa dan seperti apa orang Indonesia asli, seperti apa pula orang Indonesia palsu ? Siapa yang bisa menjelaskan itu ?,” kata Voges menantang.

Baik Palilingan maupun Voges mengharapkan agar wacana orang Indonesia asli itu segera ditinggalkan karena hanya akan melemahkan nasionalisme serta nilai-nilai kebangsaan Indonesia. “Isu seperti itu harus segera ditinggalkan karena hanya akan melemahkan dan merusak tatanan berbangsa dan bernegara,” kata Palilingan. (Joppie Worek)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *