Ditemukan Jejak Kaki Raksasa, Sisa Peradaban Tua Minahasa

unnamed-5

Batu berjejak kaki yang diduga milik manusia raksasa (Foto:Ist)

DI sebuah perkebunan rakyat Kelurahan Kinilow Tomohon pada 1 Agustus 2011 silam ditemukan sebuah batu besar yang memiliki tanda tapak kaki dengan ukuran sangat besar di atasnya. Penemuan itu mengejutkan masyarakat, bukan hanya masyarakat Tomohon ataupun Sulawesi Utara, tapi Indonesia. Kejutan ini khususnya sampai pada dunia kebudayaan lokal, arkeologi dan sejarah.

Peristiwa itu diberitakan secara viral melalui blog dan web berita di seluruh Indonesia. Menjadi sebuah penemuan yang menghebohkan dipertengahan tahun 2011 silam. Batu ini kemudian redup popularitasnya. Seakan pesan yang ditinggalkan hanyalah sebuah benda biasa dengan berbagai spekulasi dan mitologi. Tak bisa dipungkiri, suku Minahasa bukanlah suku yang dominan di Indonesia.

Jika sepintas melihat, tidak mungkin manusia memiliki telapak kaki dengan ukuran panjang 74 centimeter dan lebar 30 centimeter. Itu terlalu besar bagi ukuran manusia normal. Sehingga muncul spekulasi yang mengatakan bahwa itu adalah ukuran kaki raksasa karena jaman dulu ada sebuah legenda tentang raksasa diberbagai peradaban dunia.

Dari berbagai macam spekulasi terhadap batu yang diduga sudah ada sejak masa megalitikum ini, ada sebuah cerita yang diyakini suku Minahasa sebagai sebuah kebenaran historis, walaupun itu hanya dikalangan pemangku adat. Cerita tentang leluhur Minahasa purba yang memiliki ukuran tubuh yang sangat besar dan aneh. Legenda ini diyakini bernama Siouw Kurur.

Secara etimologi, kata Siouw Kurur berasal dari bahasa Minahasa kuno (banyak orang menyebutnya dengan Malesung). Siouw artinya sembilan dan kurur artinya ruas (seperti ruas bambu) atau bisa juga berarti lutut kaki. Menurut cerita tua jaman Malesung, leluhur Siouw Kurur ini digambarkan memiliki tubuh yang besar, sembilan ruas. Ada yang meyakini kalau leluhur ini memiliki sembilan buah lutut kaki, ada juga yang meyakini bahwa tubuh leluhur ini keras sehingga tampak seperti batu.

Siouw Kurur adalah salah satu leluhur dengan sapaan “opo” atau dalam bahasa Tontemboan disebut “apo”. Opo atau apo adalah sebutan orang Minahasa terhadap orang tua atau leluhur, namun tidak semua leluhur bisa disebut opo/apo, hanya leluhur tertentu yang bisa disebut demikian. Opo/apo adalah leluhur yang semasa hidupnya memiliki jasa pengabdian tinggi terhadap masyarakat luas dijamannya. Opo/apo juga disematkan kepada leluhur mula-mula seperti Karema, Toar dan Lumimuut. Sebutan opo/apo juga disematkan kepada Oknum transendental dalam kepercayaan Malesung, yaitu Opo Empung yang secara harafiah berarti leluhur dari semua leluhur.

Siouw Kurur sendiri dalam beberapa tradisi lisan diyakini sebagai turunan dekat dari leluhur mula-mula Toar dan Lumimuut. Belum pasti apakah Siouw Kurur adalah anak, cucu, atau cece dari Toar dan Lumimuut. Dia adalah salah satu leluhur legendaris yang terkenal dikalangan masyarakat adat Minahasa. Bukan tanpa alasan leluhur ini dijadikan panutat adat Minahasa, apo Siouw Kurur adalah satu-satunya leluhur yang memiliki situs penanda terbanyak di Minahasa. Saat ini situs yang terkenal merupakan peninggalan apo Siouw Kurur berada di Sagerat Bitung, di Warembungan Pineleng, di Pinabetengan (samping Watu Pinawetengan dan perkebunan di sekitarnya), di Taratara Tomohon, dan kini di Kinilow Tomohon. Masih banyak lagi situs peninggalannya, namun ada yang tidak dipublikasikan ada juga yang dilarang untuk dipublikasikan.

unnamed-4

Batu berjejak kaki manusia (diduga) raksasa. Ditemukan di Keluarahan Kakaskasen, Sulawesi Utara (Foto:Ist)

Dalam tradisi lisan suku Tontemboan (anak suku Minahasa) menuturkan bahwa apo Siouw Kurur adalah seorang yang ditugaskan untuk menjelajah di seluruh penjuru tanah Minahasa. Apo Siouw Kurur juga bertugas menjaga tanah Minahasa dari gangguan yang datang dari luar Minahasa, serta bertugas untuk melakukan perdamaian jika terjadi konflik antara orang Minahasa.

Jika tugasnya sebagai penjelajah tanah Minahasa, maka tidak heran kalau ditemukan begitu banyak situs peninggalannya diberbagai tempat di Minahasa. Kemungkinan besar masih banyak situs peninggalannya yang belum ditemukan saat ini. Dan dengan tugas kemanusiaannya, dapat dipastikan bahwa apo Siouw Kurur meninggalkan jejak dalam situs berupa batu dengan satu alasan, maksud dan tujuan tertentu. Itulah tugas para pemangku adat Minahasa, yaitu menggali kembali nilai-nilai kemanusiaan dari apo Siouw Kurur yang terekam dalam batu-batu peninggalannya.

Sebuah bukti otentik bagi bangsa Minahasa, bahkan dunia, bahwa manusia jaman megalitikum di Minahasa mampu meninggalkan jejak abadi bagi peradaban setelahnya. Itu juga bukti bahwa eksistensi bangsa Minahasa dalam peradaban megalitikum memiliki nilai kemanusiaan yang besar. Namun sayang, ketika kita pada jaman ini hanya memandangnya sebagai sebuah keajaiban saja. Sebab setiap peninggalan leluhur dalam semua peradaban dunia memiliki pesan besar yang perlu digali dan ditafsir kembali.

Batu tanda kaki di Kinilow adalah salah satu dari ribuan situs penanda eksistensi manusia Minahasa purba kala. Bukan soal ukuran fisiknya, tapi juga ukuran kemanusiaannya. Batu itu bisa jadi sebuah penanda dari sebuah peristiwa besar pada jaman megalitikum. Batu itu semacam dokumen rahasia bangsa Minahasa yang menyimpan perilaku serta tindakan manusia. Batu itu berpesan bahwa, berlakulah yang bijak agar kita mampu memberika nilai dalam sejarah peradaban manusia.

 

Penulis, Leon Manua 

Tags: