Mengenal KH. As’ad Syamsul Arifin, Pahlawan Nasional Tahun 2016

DIA adalah bagian dari garis keturunan Wali Songo, ayahnya dari keturuanan Sunan Ampel dan ibunya dari keturunan Sunan Kudus. Lahir di Mekah, Arab Saudi ketika ayah dan ibunya pergi ke Tanah Suci Mekah untuk menambah ilmu agama. Dialah KH. AS’ad Syamsul Arifin, seorang Kiai yang dikenal sebagai tokoh pejuang berjiwa nasionalis sejati.

KH As'ad Syamsul Arifin

Tahun 2016 ini KH As’ad Syamsul Arifin oleh Presiden Joko Widodo dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Rabu (9/11). Siapa sesungguhnya As’ad Syamsul Arifin ? Bagaimana jasa jasanya bagi negara dan bangsa Indonesia sehingga dia memperoleh gelar Pahlawan Nasional ?

Sosok Kiai As’ad lahir di Mekah, Arab Saudi tahun 1897 silam. Dia juga masuk garis keturunan Wali Songo (ayah dari keturunan Sunan Ampel dan ibu dari keturunan Sunan Kudus) yang merupakan para Wali penyebar agama Islam mula-mula di Nusantara. Kala itu, kedua orang tuanya sedang menunaikan ibadah haji juga sedang menambah ilmu tentang Islam di Mekah. Pada usia 6 tahun, Kiai As’ad dibawa pulang orang tuanya ke Pamekasan, Madura, kampung halaman mereka.

Semasa kecilnya, Kiai As’ad sudah mendapatkan ilmu agama yang cukup dari ayahnya Raden Ibrahim (lebih dikenal dengan nama KH. Syamsul Arifin) yang merupakan seorang pengajar di pondok pesantren. Rasa ingin memperdalam ilmu agama itulah sehingga pada usia 16 tahun Kiai As’ad berangkat ke tempat kelahirannya di Mekah untuk tambah belajar lebih banyak tentang Islam.

Selama di Mekah, Kiai As’ad belajar ilmu agama dari Madrasah Shalatiyah yang sebagian besar murid dan pengajarnya berasal dari Melayu dan Timur Tengah. Salah satu pengajarnya yaitu Sheikh Bakir yang berasal dari Yogyakarta. Di sana juga K.H. As’ad Syamsul Arifin muda menghabiskan waktu untuk banyak bergaul dengan cendekiawan-cendekiawan Islam ternama di zaman itu.

Tidak puas dengan berpendidikan langsung dari pusat agama Islam, Kiai As’ad pulang ke tanah Jawa tetap dengan tujuan memperdalam ilmu agama Islam dari beberapa pesantren, termasuk dari pesantren tempat ayahnya mengajar. Namun pada tahun 1908, Kiai As’ad hijrah ke Situbondo dengan ayahnya dan beberapa orang santri. Di Situbondo ini kemudian Kiai As’ad dan ayahnya mendirikan sebuah pondok pesantren yang masih berdiri sampai saat ini yaitu pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Dari tempat inilah berkembang sebuah pemikiran yang besar dari Kiai As’ad untuk bangsa Indonesia sampai saat ini.

Kiai As’ad tercatat sebagai salah satu orang yang berpengaruh dalam sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU). Seperti dikutip dari situs resmi Nahdlatul Ulama (nu.or.id) menuliskan tentang peran Kiai As’ad dalam pendirian NU sebagai berikut “Ia (Kiai As’ad – red) merupakan santri kesayangan KH Kholil Bangkalan yang diutus menemui KH Hasyim Asy’ari memberi ‘tanda restu’ pendirian NU”.

Situs resmi NU juga mencatat bahwa Kiai As’ad adalah salah satu dari empat serangkai ilham berdirinya NU. “Atas jasa Kiai As’ad sebagai penyampai isyarat langit dari Syaikhana Kholil inilah, NU berdiri. Maka ada sebutan empat serangkai ilham berdirinya NU itu terdiri dari: KH Kholil, KH Hasyim Asy’ari dan KH As’ad Syamsul Arifin.”

Bukan hanya berperan sebagai salah satu orang yang berpengaruh dalam sejarah NU, Kiai As’ad juga memiliki jiwa perjuangan nasionalisme yang tinggi. Dalam perjuangannya, Kiai As’ad yang dikenal juga dengan keahlian bela diri serta strategi perang, juga pernah mengalahkan pasukan Belanda yang hendak mengepung markas TNI di Bantal Asembagus. Kala itu para santrinya sudah dibekali dengan ilmu bela diri dan seni berperang yang sangat mumpuni sehingga mampu memukul kalah tentara Belanda.

Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indoensia, NU yang lebih dikenal dengan Islam nasionalis ini banyak menganut ajaran Kiai As’ad tentang perjuangan bangsa. NU saat ini dikenal sebagai salah satu basis massa yang memegang teguh Pancasila sebagai dasar negara. Itu terbukti saat pemerintah mewajibkan penggunaan Pancasila sebagai asas tunggal dalam organisasi pada tahun 1982, NU bergerak cepat dengan menggelar Musyawarah Alim Ulama di pondok pesantren milik Kiai As’ad. Hasilnya, NU menjadi organisasi masyarakat (Ormas) pertama di Indonesia yang menggunakan Pancasila sebagai asas organisasi.

Jiwa nasionalisme dan Pancasila yang dianut oleh setiap jemaah NU sampai sekarang ini salah satunya berkat pemikiran yang luar biasa dari Kiai As’ad. Hal ini kemudian menjadikan NU sebuah salah satu ormas Islam dengan kontribusi mengarah kepada negara dan umat sebagai bagian dari wujud aplikasi agama Islam di Indonesia. Sampai saat ini kita bisa melihat kader-kader NU mampu mempertahankan hal-hal substansial tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kiai As’ad yang bijaksana dan berjasa besar ini menghembuskan nafas terakhir pada 4 Agustus 1990 di Situbondo. Sebagai penghormatan dari masyarakat juga dari NU, Kiai As’ad yang dimakamkan di halaman pondok pesantren rintisannya ini kemudian diusulkan sebagai pahlawan nasional Republik Indonesia dari Jawa Timur. Hasilnya, Presiden Joko Widodo tahun 2016 ini hanya menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai As’ad setelah melalui berbagai proses dari Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Penghormatan RI.

Kiai As’ad dinilai adalah seorang yang sudah berjasa dalam mencapai, merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan perjuangan bersenjata dan perjuangan politik. Surat keputusan dan Tanda Gelar Pahlawan Nasional untuk KH. As’as Syamsul Arifin ini diserahkan Presiden Joko Widodo kepada perwakilan ahli waris keluarga Kiai As’ad.

Penulis, Leon Manua

Tags: