“Pahlawan, Padamu Negeri Kami Mengadu”

TERINGAT dulu, semasa sekolah SD dan SMP di Makassar dan Manado. Setiap tanggal 10 November, kami upacara bendera di halaman sekolah. Kepala sekolah memberi arahan tentang kepahlawanan.

"Pahlawan, Padamu Kami Mengadu" (Foto:okezone)

Ilustrasi : “Pahlawan, Padamu Kami Mengadu” (Foto:okezone)

Teringat juga, di dinding kelas sekolah terpajang beberapa gambar Pahlawan Nasional. Semua guru bisa dengan lancar menceritakan kisah perjuangan pahlawan. Ada yang menceritakan Imam Bonjol, Diponegoro, Sam Ratulangi, Patimura, R A Kartini dan lain-lain.

Teringat juga, buku sejarah berwarna putih yang menceritakan secara singkat para pejuang lengkap dengan gambar hitam putih Sang Pahlawan. Buku itu seminggu sekali dibagikan dari perpustakaan sekolah untuk dibaca, dan kemudian dikembalikan. Karena terbatas, satu buku dibaca dua orang murid.

Teringat juga, setiap 17 Agustus, diadakan lomba cerdas cermat antar kelas dan antar sekolah. Dalam cerdas cermat itu, selalu muncul belasan pertanyaan tentang pahlawan.  Pertanyaan tentang pahlawan hampir semua bisa dijawab peserta cerdas cermat, bahkan berlomba menjawab.

Teringat juga, kami anak-anak banyak terinsiprasi dengan kisah-kisah heroik para pahlawan yang diceritakan dan dipelajari di sekolah. Kami juga terinspirasi dengan semangat belajar dan perjuangan tokoh pendidikan.

Teringat juga, kami sepulang sekolah pernah bermain perang-perangan,  dan saya dengan gagahnya memerankan diri seperti Wolter Robert Mongisidi. Teman saya yang asal Jawa berperan seperti Diponegoro. Teman saya asal Ambon berperan seperti Patimura.

TERINGAT, dua bulan lalu saya bertanya kepada seorang mahasiswa soal asal daerah beberapa pahlawan nasional yang cukup dikenal. Dari lima pertanyaan, hanya satu yang dijawab benar. Ada yang menjawab, Patimura dari Papua, ada yang menjawab Imam Bonjol dari Sumatera Utara, ada juga yang menjawab RA Kartini dari Jawa Timur.

Saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin pelajaran sejarah perjuangan pahlawan bangsa ini sudah terpinggirkan ?  Saya menjadi khawatir, jika kepahlwanan anak bangsa tak lagi menjadi rujukan atau acuan keteladanan.

Berbagai pertikaian, kerusuhan, dan pertentangan kelompok kepentingan dan ideologi di negeri ini memang masih menjadi kerisauan banyak kalangan. Ini  juga memberi gambaran betapa makin melemahnya semangat kebangsaan kita, semangat nasionalisme anak-anak bangsa.

Selagi anak-anak kita tidak lagi cukup mengenal semangat juang para pahlawan bangsanya menegakan kemerdekaan dan kedaulatan negara di masa lalu, saat bersamaan kita terus dipertontonkan dengan peristiwa pertentangan-pertentangan, pertikaian-pertikaian anak bangsa berbasis kepentingan ideologi.

Padahal, pada episode masa silam, kita ketahui para pendahulu negeri, para pahlawan, para pejuang , sudah meneladankan dengan sangat baik arti sebuah kebangsaan, arti sebuah kemerdekaan dan kedaulatan. Soal ideologi kebangsaan mereka telah selesai, mereka telah membayar lunas.

Lantas, mengapa sekarang kita coba mengutak-atik kebangsaan dan nasionalisme yang sudah dibayar lunas oleh darah dan nyawa pahlawan bangsa. Mengapa sekarang masih saja muncul pertikaian kepentingan ideologi ? Belum cukupkah harga yang dibayarkan di masa lalu untuk menyatukan ideologi kebangsaan Indonesia ?

Bangsa ini punya banyak kisah perjuangan hidup dan mati. Kita punya ribuan pejuang, kita punya pahlawan dan pejuang dengan ragam latar belakang, ada Kyai, ada Uskup, ada militer, ada sipil. Ada keturunan Arab, Cina, Eropa, ada Jawa, ada Batak, ada Bali, ada Sulawesi, ada Timor, Batak, Minang, Banjar, Dayak, Maluku, dan lain sebagaiknya. Mereka dalam keragamannya mendiriakn satu bangsa, Indonesia.

Semestinya, kepahlawanan dan perjuangan anak-anak bangsa itu menjadi sebuah rantai peradaban yang utuh. Rantai perjuangan bersama. Kita sudah mencatat dalam lembaran negara 169 Pahlawan Nasional. Darah dan keringat dalam semangat dan teladan mereka hendaklah mentes di dalam tubuh kebangsaan kita, di dalam diri nasionalisme kita, di dalam jiwa ke-Indonesia-an kita.  Jika tidak, kita sedang berjuang dalam ketidakpastian peradaban.  Maka bersiaplah untuk terus menjadi miskin.

Jika 169 Pahlawan Nasional kita bisa bangun dan berbicara, kemudian kita mengadu, tentu mereka akan berbisik, “Jangan mau jadi miskin karena pertikaian di negerimu yang kaya akan sejarah,”

Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2016.

Penulis, Joppie Worek

Tags: