by

Delapan Penyebab Utama Kecelakaan Pesawat

MASKAPAI penerbangan semakin banyak, canggih dan sangat familiar bagi masyarakat dunia. Memang tidak berbanding lurus dengan peningkatan jumlah maskapai tetapi peristiwa kecelakaan pesawat masih sering terjadi. Harus disadari pesawat terbang sebagai alat transportasi ciptaan manusia tentu ada kelemahannya sehingga bisa rusak dan celaka. Terkait itu, perlu diketahui, sedikitnya ada delapan penyebab utama terjadinya kecelakaan pesawat, yaitu:

Ilustrasi kecelakaan pesawat. (foto: reuters)
Ilustrasi kecelakaan pesawat. (foto: reuters)
  1. Faktor Cuaca

Cuaca ekstrim seperti hujan deras, angin kencang dan salju merupakan ancaman dalam penerbangan. Dalam kondisi seperti itu, pilot harus bisa melakukan manufer menghindari titik-titik yang menjadi pusat cuaca buruk. Hal terpenting sebelum melakukan penerbangan adalah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta pihak terkait lainnya untuk memprediksi keamanan penerbangan.

Nah, bagi penumpang, jika maskapai memutuskan menunda jam keberangkatan (delay) atau bandara menutup penerbangan sementara karena cuaca buruk, bersyukurlah itu keputusan bijaksana.

 

  1. Tersambar Petir

Hampir sama dengan cuaca ekstrim namun tidak ada yang bisa memprediksi secara tepat kapan dan dimana petir akan muncul. Nah, jika gejala atau tanda-tanda kemunculan petir itu ada maka sungguh keterlaluan jika ada maskapai atau pilot yang memaksakan pesawatnya terbang.

Seperti yang dialami pesawat AirAsia QZ8501 pada Desember 2014 yang jatuh dan menyebabkan 162 kehilangan nyawa. Pesawat dari Surabaya tujuan Singapura ini diduga celaka karena terkena badai petir pada ketinggian 50 ribu kaki.

Pilot harusnya bisa manuver untuk menghindari pusat badai dan jangan sekali-kali berada di pusat badai. Jika merasa pusat badai terlalu besar atau tersebar di beberapa titik, sebaiknya pilot segera melakukan pendaratan darurat atau kembali ke bandara semula.

  1. Kerusakan Mesin

Setiap komponen pesawat dibuat insinyur yang ahli pada bidangnya. Namun tak bisa dipungkiri banyaknya kompenon berarti butuh banyak ketelitian dan uji coba. Belum lagi bahan-bahan yang digunakan harus benar-benar berstandar bukan ‘tiruan’ dari bahan yang seharusnya.

Saat ini sudah ada dan sedang dikembangkan sistem backup, redundansi dan komputerisasi otomatis. Sistem ini bermanfaat untuk mengontrol kondisi mesin sekaligus sarana untuk memeriksa tindakan pilot saat mengemudikan pesawat. Sistem ini menjadi solusi untuk mengontrol kestabilan mesin pesawat sebelum, dan ketika sedang terbang.

Solusi lainnya adalah melakukan pemeriksaan sebelum pesawat beroperasi. Bukan sehari sebelumnya tetapi beberapa jam sebelum penerbangan. Standar Operasional Prosedur (SOP) ini sebenarnya sudah ada. SOP ini acapkali dilanggar pilot berkonspirasi maskapai yang tidak ingin rugi karena kehilangan satu kali penerbangan.

Begitu juga dengan penumpang, jika ada pesawat yang delay dengan berbagai alasan harap dimaklumi mungkin ada perbaikan atau pemeriksaan mesin. Lebih baik terlambat daripada tidak selamat kan?

  1. Human Error

Human Error atau kesalahan manusia terjadi karena adanya tekanan psikologis yang dialami seseorang dan menyebabkan orang tersebut melakukan tindakan emosional atau di bawah alam sadar.

Itulah mengapa pilot tidak boleh orang yang gampang panik sebab jika panik dan salah tekan tombol maka nyawa penumpang taruhannya. Misalnya, ketika tanda peringatan kebakaran menyala, pilot dan penumpang harus tenang mencari solusinya bukan membuka pintu darurat atau pilot mematikan mesin pesawat.

Seperti kecalakaan TransAsia Airways di Taiwan Februari 2016 lalu diduga terjadi karena saat ada 2 mesin yang tiba-tiba tidak berfungsi. Pilot yang panik langsung mematikan mesin pesawat. Pilot ini salah menarik katup penutup dan membuat pesawat tiba-tiba menurun lalu menghantam daratan. Pesawat itu akhirnya menabrak jembatan dan jatuh ke sungai. Ada 43 orang kehilangan nyawa dari total 58 penumpang di pesawat itu.

Penyebab lainnya, pilot mengonsumsi narkoba atau dalam tekanan masalah pribadi. Itulah mengapa, perlu adanya pemeriksaan psikologis dan kesehatan rutin terhadap pilot dan kopilot ketika akan naik untuk ‘menyetir’ pesawat. Memang, beberapa studi menyebutkan human error merupakan penyebab utama beberapa kecelakaan pesawat di dunia.

  1. Kelalaian Petugas Kontrol

Kecelakaan pesawat bisa terjadi karena kelalaian kru dan petugas kontrol di bandara. Salah koordinasi dengan pilot bisa menyebabkan pesawat tabrakan diudara, tabrakan saat akan terbang (takeoff), atau mendarat (landing). Tabrakan pesawat yang terparah pernah terjadi Maret 1977 di Landasan Bandara Tenerife, Spanyol dengan korban tewas 583 jiwa. Di Indonesia tabrakan pesawat beberapa kali terjadi dan belum lama ini (4 April 2016) antara pesawat Batik Air dan pesawat Trans Nusa.

  1. Penumpang tak taat Aturan

Setiap kali naik pesawat, penumpang diminta harus mematikan handphone. Pramugari bahkan harus berkali-kali memeriksa dan menegur satu persatu penumpang sebelum pesawat take-off.

Hal ini seringkali dilanggar dan dilupakan penumpang yang sudah lelah dan ingin segera tiba di tujuan. Mereka tidak tahu jika aktivitas di handphone bisa menyebabkan sistem navigasi di pesawat terganggu. Tidak usah panjang lebar soal sistem navigasi sebab satu garis petunjuk di radar saja meleset, bisa-bisa pesawat oleng dan jatuh.

Selanjutnya membuka pintu darurat. Ini memang jarang terjadi namun pernah terjadi di Cina. Seorang penumpang membuka pintu darurat untuk mendapatkan udara segar. Saat itu penumpang sudah mengenakan sabuk pengaman dan pilot sedang bersiap untuk menekan katup take-off pesawat.

Ingat, pintu darurat hanya bisa dibuka dalam kondisi darurat atas petunjuk dari pilot bukan seenaknya penumpang.

  1. Kesengajaan dan Aksi Terorisme

Hati manusia tak ada yang tahu. Hari ini baik, besok bisa tiba-tiba berubah menjadi jahat karena tekanan ekonomi, ataupun pemahaman yang salah soal kehidupan. Aksi terorisme bukan hanya bom bunuh diri, sejarah mencatat beberapa kali terjadi aksi dari atas pesawat.

Seperti pesawat yang sengaja ditabrakkan ke gedung World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat. Lalu pernah terjadi pada penerbangan Germanwings Maret 2015 lalu, dimana sang kopilot mengunci pilotnya dalam kokpit dan menabrakkan pesawat tersebut. Kopilot ini diduga merupakan anggota jaringan teroris yang ingin menunjukkan eksistensi jaringannya. Sebanyak 150 orang tewas akibat aksi bunuh diri ini.

 

  1. Kehabisan Bahan Bakar

Kehabisan bahan bakar bisa menjadi bencana jika sedang berada di laut lepas. Sebenarnya ada prosedur yang bisa dilakukan apalagi jika alat komunikasi masih berfungsi. Terpenting pilot tak boleh pasrah apalagi panik.

Itulah mengapa sebelum melakukan penerbangan, pesawat besar ataupun kecil harus memastikan bahan bakarnya sudah terisi. Jangan karena ingin cepat tiba di tujuan mengabaikan pemeriksaan dan hanya berdasarkan prediksi. Walau harus terlambat lebih baik daripada tidak selamat.

Namun demikian, sejak tahun 2016 kecelakaan pesawat di dunia terbilang sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ada banyak penambahan maskapai yang beroperasi di semua negara namun dibarengi SOP serta mesin yang lebih canggih. Alat transportasi pesawat akan terus berkembang dan tentunya seiring perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), semua pihak berharap kecelakaan bisa dihindari.

 

Penulis: Yudith Rondonuwu

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *