Ini Gagasan Sumarsono : “Jangan Produksi Sampah Sembarangan”

SETIAP orang di Jakarta kini menjadi produsen sampah sebanyak 2 Kg per hari. Kota Jakarta setiap harinya dipenuhi sekitar 14.000.000 (10.000.000 penduduk Jakarta dan 4.000.000 pengunjung) semuanya potensial sebagai produsen sampah.

Plt Gubernur DKI Jakarta, DR Soni Sumarsono menawarkan gagasan, “Jangan Produksi Sampah Sembarangan”. Hal ini muncul setelah dia mempelajari beban sampah Jakarta yang terus bertambah dan masuk salah satu kota produsen sampah terbesar di dunia.

Soni Sumarsono saat meninjau armada angkutan sampah Jakarta (Foto:bagitu.com)

Sesuai data Dinas Kebersihan Pemprov DKI Jakarta, setiap hari kota metropolitan ini memproduksi sampah sebanyak 7.000 ton atau 7.000.000 kilogram sampah. Maka sesuai jumlah penghuni Jakarta, setiap orang di Jakarta rata-rata membuang sampah 2 Kg per hari. Sebuah angka yang seharusnya “berbahaya”.

Berbahaya bukan hanya karena jumlah sampahnya, tetapi juga berbahaya karena prilaku hidup dan usaha di Jakarta yang sangat “produktif” membuat sampah. Mulai dari lingkungan rumah tangga, unit usaha dagang, industri, dan sektor kelembagaan menjadi semakin produktif membuat sampah. Produktivitas ekonomi tidak seharusnya sebanding atau sejajar dengan produktivitas menciptakan sampah.

Maka gagasan mengatasi sampah di Jakarta harus dari hulu ke hilir. “Ke depan kita perlu lebih serius mengurus sampah dari hulu ke hilir. Mengurus cuma di angkutan dan pembuangan. Hulunya adalah semua pihak harus bisa miskin sampah,” kata Plt Gubernur DKI Jakarta Soni Sumarsono dalam wawancara dengan bagitu.com Selasa (13/12) di Jakarta.

Miskin sampah yang dimaksudkan adalah, semua dapat secara terukur menekan produksi sampah dengan berbagai cara. Sebab angka produksi sampah Jakarta 7.000 ton setiap hari akan terus bertambah jika tidak dilakukan pencegahan mengurangi produksi sampah di titik paling hulu.

Angka produksi sampah di Jakarta, kata Sumarsono, bisa ditekan dengan membangun polah hidup, pola kerja, dan pola usaha yang minus sampah atau miskin sampah. Angka 7 juta kilogram produksi sampah di Jakarta sebenarnya sudah melebihi titik kewajaran dan jika tak dikendalikan angka ini akan terus membebani kehidupan secara menyeluruh.

Bandingkan dengan Kota London yang berpenduduk hampir 9 juta jiwa, angka produksi sampahnya setiap hari hanya sekitar 2.000 ton per hari. Artinya setiap orang di London hanya memproduksi sampah kurang dari sampai 0,5 Kg per penduduk. “Sekarang saatnya kita memerlukan study mendalam dan aplikasi menekan produksi sampah melalui pola hidup masyarakat dan pola usaha,” kata Sumarsono.

Dia menunjuk contoh, pola kampanye kebersihan dan memerangi sampah selama ini dikenal dengan “Jangan Membuang Sampah Sembarangan”. Kedepan Jakarta sudah harus melakukan kampanye membatasi produksi sampah misalnya dengan “Jangan Produksi Sampah Sembarangan”.

Sumarsono benar, bahwa memang masyarakat tidak harus pasrah menjadi produsen sampah melebihi batas normal, produksi sampah di semua tingkatan bisa ditekan. Ternyata ada banyak cara yang dapat dilakukan secara massif agar masyarakat membatasi produksi sampah. Salah satunya adalah membangun pola konsumsi harian warga yang minus sampah, dunia usaha minus sampah, perdagangan minus sampah, dan industri minus sampah.

Pola hidup minus sampah sebenarnya sudah diterapkan di banyak negara maju, sementara Indonesia masih berkutat dengan pola “jangan buang sampah sembarangan”. Diperlukan sebuah program strategis secara menyeluruh dan terukur menekan produksi sampah. Salah satu contoh, kalangan industri atau pabrik-pabrik sudah saatnya menekan sampah ikutan dalam produknya. Industri kemasan misalnya harus menggunakan konsep minimalisir sampah. Restoran dapat berkomitmen mengurangi sampah sendok, kertas, dan plastik.

Upaya menekan produksi sampah akan memberikan banyak manfaat efisiensi di semua lini. Sebab, jika produksi sampah berkurang pada tingkatan normal atau wajar, maka beban angkutan, pembuangan, serta pengolahan sampah akan ikut berkurang. Ada efek berantai jika kita berhasil meminimalisir produksi sampah di tingkat hulu. “Penangan sampah di tingkat hulu bukan hanya pengolahan dengan tehnologi terintegrasi, tetapi dapat dilakukan dengan upaya menekan produksi sampah secara dini,” kata Sumarsono.

Semantara itu, kalangan industri dan pabrikan sebagai sumber produksi sampah juga harus diarahkan untuk menjadi pelopor meminimalisir penggunaan material potensial sampah seperti styreofoam, bahan pembungkus palstik, gardus, dan bahan lain potensial sampah. Pengurangan matrial potensial sampah itu tentu juga akan memberi efisiensi atau menekan cost produksi.

Soni Sumarsono mengatakan, sesungguhnya penanganan sampah di Kota Jakarta baik angkutan, pembuangan, serta pengolahan sudah dapat terarah dan baik dan dapat diteladani kota-kota lain Indonesia. Sistem penangan sampah yang dibangun selama ini sudah jauh lebih baik. Armada angkutan di semua lini sudah terjangkau, demikian pula fasilitas, tehnologi, sistem dan jaringan penanganan sudah memadai.

Beban pengurusan sampah di metropolis Jakarta saat ini dapat digambarkan dari berbagai jaringan pengelola dan fasilitas yang telah disediakan. Penangan sampah di Jakarta saat ini telah melibatkan sekitar 14.000 pekerja harian lepas, dibawah kendali lembaga Dinas Kebersihan. Berbagai fasilitas dan proyek penangan sampah juga terus bertambah seiring dengan terus meningkatnya produksi sampah.
Upaya maksimalisasi dan serapan tehnologi pengolahan sampah di Jakarta rupanya masih akan menjadi beban serius di masa akan datang. “Mengatasi dan mengolah sampah 7.000 ton setiap hari bukanlah pekerjaan mudah. Beban ini akan terus bertambah,” kata Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Isnawa Adjie.

Dia sepakat dan mendukung penuh gagasan Plt Gubernur DKI Jakarta Soni Sumarsono agar produksi sampah di semua lini hulu ditekan. Ada banyak cara mengurangi produksi sampah, pabrik-pabrik, restoran, hingga lingkungan rumah tangga dapat menekan produksi sampah. “Salah satu yang potensial ditekan adalah mengurangi jumlah dan ukuran kemasan dan wadah produk yang potensial sampah,” kata Isnawa mengutip gagasan Sumarsono.

Dia menambahkan, upaya modernisasi penanganan sampah seperti pembangunan tiga ITF (Integrated Treatment Facility) oleh Pemda DKI Jakarta, serta fasilitas dan system yang dibangun selama ini, akan lebih efektif dan efisien jika produksi sampah dapat ditekan atau dikurangi di titik paling hulu seperti pabrik atau produsen barang potensial sampah. “Saya kira konsep Pak Soni sangat diperlukan,” katanya lagi.

Penulis : Joppie Worek

Tags: