Lupakan (dulu) Perbedaan, Mari Bersatu untuk Merah Putih

Rakyat Indonesia mendukung perjuangan tim Garuda. (foto:ist)

Tim Nasional Indonesia akan mencoba peruntungannya di kesempatan ke-5 dalam Final Piala AFF Rabu (14/12). Kali ini, Indonesia akan meladeni raksasa Asia Tenggara, Juara bertahan Thailand. Memainkan sistem home and away, sebagai non unggulan Indonesia kebagian jatah sebagai tuan rumah pertama dan menggunakan Stadion Pakansari Cibinong menjadi markas partai kandang.

Secara teknis, kini Thailand memang unggul atas Indonesia. Perkembangan sepakbola negara gajah putih tersebut berkembang pesat. Padahal dari tahun 80an, Indonesia menjadi rival Thailand menjadi raja Asia Tenggara.

SEA Games tahun 1991 di Filipina adalah kenangan terakhir kejayaan Indonesia. Kala itu Indonesia mengalahkan Thailand dan membawa pulang medali emas. Ferril Hattu dan kawan-kawan polesan Anatoli Polosin menang adu penalti 4-3 di Stadion Rizal Memorial, Manila.

Setelah itu, Indonesia seperti kehilangan jatidirinya. Tak ada lagi tawa dan kegembiraan setiap mengakhiri turnamen. Terhitung 7 kali Indonesia masuk ke babak pamungkas namun semuanya berakhir dengan kesedihan. Di Ajang Sea Games Tahun 1997, 2011 dan 2013 Indonesia masuk final namun tak mampu berbuat banyak. Dua kali Thailand memupuskan mimpi Indonesia.

Di ajang piala AFF (sebelumnya bernama piala Tiger) bahkan lebih menyesakkan, Indonesia masuk final empat kali di tahun 2000, 2002, 2004 dan 2010. Lagi-lagi, Indonesia hanya bisa menyaksikan pesta juara tim lawan, mengangkat trofi sambil menari. Thailand juga dua kali menambah perih luka Indonesia.

Prestasi Thailand memang sudah berlevel Asia, di dua ajang tersebut merekalah yang menjadi pengoleksi juara terbanyak. Bahkan di ajang kualifikasi piala dunia 2018, Thailand tembus babak ke-3, bersama tim-tim macan Asia langganan Piala Dunia seperti Jepang, Australia dan Arab Saudi.

Namun, hal tersebut bukan berarti Indonesia harus minder dan tak bisa mengalahkan Thailand. Indonesia lama tak pernah merasakan gelar juara lebih banyak ditentukan faktor egois, politis dan bisnis. Banyak kepentingan yang didahului melebihi keutamaan prestasi itu sendiri.

Indonesia pernah punya banyak pemain hebat, sebut saja Soetjipto Soentoro, Maulwi Saelan, Ramang, Ronny Pasla, Ronny Patinasarani, Ricky Yakobi, Rully Nere, Robby Darwis, Aji Santoso, Fachri Husaini, Widodo C Putro, Kurniawan Dwi Yulianto, Rochy Putiray, dan Bambang Pamungkas.

Indonesia juga pernah punya prestasi mentereng. Lihat saja, Indonesia yang sebelum merdeka bernama Hindia Belanda, tampil di Piala Dunia 1938 bermaterikan pemain pribumi. Tengok juga, saat Indonesia menahan imbang Rusia di Olimpiade 1956, Indonesia juga pernah meraih medali perunggu Asian Games 1958, Indonesia pernah meraih dua medali Sea Games 1987 dan 1991, Indonesia pernah imbang dengan Kuwait di Piala Asia 1996 bahkan Indonesia pernah mengalahkan Qatar di Piala Asia 2004.

Prestasi itu bukan kebetulan, Indonesia memang tim hebat. Hanya saja, Indonesia sering lupa merupakan negara besar. Indonesia juga acap lalai mengingat makna persatuan dan kerap abai tuah Bhineka Tunggal Ika. Sebagus apapun materi pemain Timnas tapi jika tidak ditunjang pengurus mumpuni dan topangan penuh pemerintah, hasilnya pasti bisa ditebak.

KINI masalah itu sudah mulai disadari. Ketua PSSI dan gerbong barunya fokus membangun prestasi. Pemerintah sekarang turun dengan dukungan total. Skuat pemain cukup menjanjikan, pelatihnya pun kaya pengalaman. Ini waktu yang pas untuk menunjukkan jati diri sesungguhnya bangsa Indonesia, saat yang tepat untuk kembali menjadi JUARA.

“Kini kita mempunyai kesempatan untuk membuat sejarah sepakbola Indonesia, Saya sudah bilang itu kepada para pemain. Selalu ada kesempatan,” begitu kata Alfred Riedl, sang peramu taktik Indonesia.

Arek Malang Kurnia Meiga, Nyong Ambon Manahati Lestusen, Arek Surabaya Andik Vermasyah, Anak Ternate Rizky Pora, Putra Papua Boaz Solossa dan Blasteran Netherlands Stefano Lilipaly akan bahu-membahu mewujudkan mimpi 250 juta rakyat Indonesia, dahaga selama 25 tahun kembali mengangkat piala. Mereka akan bersatu dalam pluralisme menyingkirkan perbedaan, diikat semangat persatuan, nasionalisme dan patriotisme untuk satu tujuan, Indonesia Jaya.

Gol cepat, tidak kebobolan dan mencetak banyak gol akan menjadi misi utama Indonesia sebagai bekal pertandingan selanjutnya tiga hari berselang dalam Final leg ke-2 di Bangkok (17/12).

“Kami mohon doa dan dukungan seluruh rakyat Indonesia. Kami berjanji akan berjuang mati-matian untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Ini kesempatan emas meraih Juara,” itu juga kata kapten tim Boaz Solossa.

Sudah saatnya seluruh rakyat Indonesia melupakan perbedaan yang ada, menurunkan sekat yang menjadi pemisah sesama anak bangsa. Ini menjadi momentum yang tepat untuk saling bergandengan tangan kembali, bersatu demi kejayaan Indonesia.

Stadion Pakansari, Cibinong Jawa Barat akan menjadi saksi perjuangan 23 putra terbaik Bangsa Indonesia membawa Garuda terbang lebih tinggi, membuat Dwi Warna Merah Putih berkibar lebih gagah dan membawa Indonesia Raya menggema lebih jauh. Selamat Berjuang pasukan Garuda, INDONESIA BISA.

Penulis :Franky Tangkudung.

Tags: