by

Ahok – Djarot Waspadai Politik Uang dalam Pilkada

JAKARTA, bagitu.com – Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Prnama dan Djarot Siaful Hidayat (Ahok-Djarot) mulai mewaspadai praktik-praktik politik uang menjelang hari pencoblosan Pilkada DKI Jakarta, 15 Febuari 2016.

Ahok Djarot anti politik uang dan serangan fajar. (Foto:istimewa)

Djarot selaku calon Wakil Gubernur DKI Jakarta mengingatkan para pendukungnya untuk mewaspadai dan mencegah praktik politik uang yang mungkin saja dilakukan pasangan calon lain. Dia mengatakan, praktik politik uang yang juga dikenal dengan sebutan “serangan fajar” adalah pelanggaran Undang Undang Pemilu dan patut dihukum.

“Tangkap pelaku serangan fajar, bawa ke Bawaslu atau polisi. Jangan diapa-apakan,” kata Djarot pada Apel Siaga 2000 Relawan Posko Perjuangan Rakyat, Jakarta Barat, Minggu (18/12).

Dia mengatakan, Ahok-Djarot sangat anti praktik politik uang dalam Pilkada, karena itu tidak mendidik dan merusak tatanan demokrasi yang sedang dibangun. Dia pun menyerukan semua pendukung dan simpatisan Ahok-Djarot untuk memerangi semua bentuk politik uang dalam Pilkada.

Dia menjelaskan, yang terjadi di kubu Ahok – Djarot sekarang justru sebaliknya, para pendukung dari berbagai penjuru Jakarta bahkan dari luar Jakarta datang ke Rumah Lembang memberi dukungan dana untuk pasangan petahana itu. “Kita justru dapat dukungan dana dari rakyat secara sukarela. Kita anti politik uang,” ujarnya.

Di Rumah Lembang, markas Ahok-Djarot setiap hari pendukung datang memberi support dengan berbagai cara. Ada yang menyumbang lewat pembelian baju kota-kotak, bahkan ada yang datang membawa sumbangan spontan. “Seorang Bapak dari Medan datang menyerahkan langsung dana Rp. 75 juta, sebagai sumbangan sukarela,” ungkap Amri Mamonto, petugas Rumah Lembang.

Hingga pekan ini sumbangan spontan dari rakyat untuk Ahok – Djarot yang disalurkan langsung melalui Rumah Lembang dan rekening Badja (Basuki-Djarot) di BNI diperkirakan sudah mencapai Rp. 1 miliar. “Berapapun sumbangan kita terima, ada yang menyumbang Rp. 10.000,” kata Amri.

Djarot menambahkan, praktik politik uang dengan aksi “serangan fajar” dalam Pilkada akan menjadi awal dari praktik-praktik korupsi dalam pemerintahan kemudian. Oleh karena itu mereka memandang, jauh lebih terhormat menerima sumbangan dana kampanye dari rakyat secara sukarela dari pada membujuk rakyat dengan uang agar memilih mereka.

Djarot menandaskan, pasangan Ahok – Djarot telah sejak awal bertekad memerangi korupsi. Salah satu langkah untuk pencegahan korupsi adalah pemilihan umum yang bersih dari praktik politik uang. “Kami akan terus memerangi korupsi, dan Pilkada harus bebas dari politik uang,” ujar Dajrot.

 

Penulis : Joppie Worek

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *