Warga Manado Kini Dilanda Trauma Hujan Deras

BAGITU – Hujan kini seperti menjadi momok yang mengkhawatirkan warga Manado dan sekitarnya. Dalam 15 tahun terakhir ini, curah hujan dengan intensitas tinggi telah mengakibatkan bencana yang menakutkan di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara. Telah puluhan orang meninggal karena tenggelam, hanyut, dan tertimbun tanah longsor. Kini warga Manado dan sekitarnya mengalami trauma dan khawatir hujan deras.

Penampakan banjir di Manado Febuari 2014. (Foto:capungshare)

Bencana banjir bandang yang melanda Kota Manado dan sekitarnya tahun 2014 misalnya telah merengut belasan nyawa, dan ribuan rumah hanyut dan rusak. Terakhir, bencana banjir dan tanah longsor Kamis (15/12) datang tiba-tiba dan mengakibatkan 5 warga meninggal dunia akinat hanyut dan tertimbun tanah longsor. Padahal ketika itu hujan deras hanya turun sekitar dua jam yang diikuti dengan meluapnya sejumlah sungai yang melintas di kota Manado.

Sungai kecil dan besar di Manado kini selalu menjadi ancaman bencana. Topografi kota yang berbukit-bukit juga menjadi ancaman longsor yang sewaktu-waktu dapat merengut nyawa warga. Bahkan selokan kecil di kota ini dapat menjadi ancaman ketika banjir melanda. Tidaklah mengherankan, ketika hujan deras datang, di media sosial warga Manado dan sekitarnya saling memperingatkan untuk waspada banjir dan longsor.

Kota Manado sendiri dikenal sebagai kota pantai dengan latar topografi berbukuit-bukit dan lereng-lereng yang cukup curam. Oleh karenanya, Manado dan sekitarnya dibelah belasan sungai besar dan kecil.  Semuanya tercatat telah menjadi sumber bencana banjir dan longsor.

Empat sungai besar yang membelah Manado masing-masing Sungai Tondano, Sungai Sawangan (Malendeng), Sungai Sario, dan Sungai Bahu Malalayang. Keempat sungai ini jika meluap menjadi bencana dan sanggup merendam lebih separuh Kota Manado. Sepanjang 15 tahun terakhir ini, bencana itu telah berulang kali, terakhir 15 Desember 2016.

Dari Sembilan kecamatan di Manado sedikitnya tujuh kecamatan yang kini tercatat rawan bencana banjir dan longsor. Tujuh kecamatan itu masing-masing, Malalayang, Sario, Wanea, Tikala, Wenang, Tuminting, dan Kecamatan Singkil. Dua kecamatan yang relatif terhindar dari ancaman banjir dan longsor adalah Kecamatan Mapanget dan Kecamatan Bunaken.

Bencana banjir dan longsor di Kota Manado yang kini menjadi trauma menurut kajian sejumlah pakar lebih disebabkan makin lemahnya daerah serapan di kawasan penyangga Kota Manado. Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, dan sebagian wilayah Kota Tomohon telah menjadi kawasan yang potensial mengirim banjir bandang.

Rusaknya ekosistem penyangga atau daerah resapan di tiga wilayah itu mengakibatkan tumpahan air yang melimpah ke Kota Manado. Empat sungai besar yang melintas Manado tak sanggup lagi mangaliri tumpahan air kiriman dari tiga wilayah itu.

Selain itu sungai-sungai kecil dan besar di Kota Manado dalam 15 tahun terakhir ini semakin menyempit akibat pembangunan pemukiman yang tidak terkendali. Semua sungai di Manado mengalami penyempitan dan pendangkalan yang tidak terkontrol.

Pembangunan pemukiman baru di kawasan penyangga Manado, yakni Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara, dan Kota Tomohon dalam 15 tahun terakhir ini telah membuat rusaknya daerah resapan air. Proyek perumahan Citra Land serta beberapa kompleks perumahan baru di sepanjang jalur Ringroad Satu hingga Kecamatan Pineleng dan sekitarnya telah ikut merusak daerah resapan.

Keadaan banjir Manado Febuari 2014. Kendaraan di depan kantor Walikota Manado terendam. (Foto:istimewa)

Fakta-fakta alam di atas telah sekitar 15 tahun memberi pelajaran kepada pemerintah dan warga Kota Manado dan sekitarnya. Namun disayangkan upaya pemerintah untuk mencegah bencana banjir dan tanah longsor dipandang belum maksimal.

Sejauh ini Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Pemerintah Kota Manado dan pemerintah di kawasan penyangga hanya sebatas membangun wacana perencanaan. Belum ada upaya konkrit pemerintah mencegah atau banjir dan tanah longsor yang telah menjadi ancaman rutin yang dapat terjadi dalam siklus dua tahunan.

Berbagai program dan proyek pencegahan banjir sudah diwacanakan sejak lima tahun silam. Sebut saja program normalisasi sungai dan pembangunan waduk di dua titik yang sudah didengungkan 10 tahun silam, sejauh ini masih berupa wacana dan rencana.

Normalisasi Sungai Tondano misalnya, sudah diupayakan sejak tahun 2010 tetapi hingga kini belum terlaksana. Demikian juga pembangunan Waduk Sawangan dan Waduk Kuwil telah dicanangkan sejak tahun 2010 tetapi belum juga terlaksana.

Keseriusan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota Manado kini menjadi tuntutan rakyat, agar segera mengambil langkah mencegah bencana alam banjir dan longsor di Ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Pemerintah harus benar-benar hadir di tengah kekhawatiran warga yang setiap tahun terancam banjir dan longsor.

Seharusnya pemerintah juga ikut merasakan trauma hujan yang kini melanda warga Manado dan sekitarnya. Seharusnya pemerintah juga menempatkan persoalan banjir dan tanah longsor di Manado dan sekitarnya menjadi program prioritas dan mendesak. Seharusnya juga pemerintah hadir bersama rakyat yang trauma dan khawatir ketika hujan deras turun.

Sudah cukup belajaran bencana tahun 2000, 2014, dan 2016. Sudah cukup peringatan Manado lumpuh dan porak-poranda terendam banjir kiriman 2014. Sudah cukup puluhan warga Manado meninggal dunia akibat hanyut hanya karena banjir kiriman dan tanah longsor. Data bencana banjir di Manado 15 tahun terakhir ini juga menunjukan siklus yang semakin pendek dan mungkin lebih sering terjadi.

Sangat disayangkan jika pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Pemerintah Kota Manado tidak gigih berjuang mengambil langkah segera melakukan pencegahan banjir dan longsor.

Kita hanya punya satu jurus untuk mencegah bencana alam,  kembalikan jalan yang memang milik alam.

Penulis : Joppie Worek

Tags: