Indonesia, Perayaan Natal, dan Fatwa MUI

BAGITU – Persiapan perayaan Natal dan Tahun Baru di Indonesia sungguh telah mengundang keprihatinan sebagian anak bangsa. Kita terkejut dengan aksi sweeping, kita juga gaduh dengan Fatwa MUI, kita juga kaget dengan serangkaian aksi terror bom yang digagalkan Polri.

Ilustrasi : Indonesia dan keragaman

Penghentian ibadah natal, sweeping pernak-pernik natal dan tahun baru di mall-mall, munculnya Fatwa MUI, pelarangan menyanyikan lagu-lagu bernuansa natal; memang telah menjadi perbincangan gelisah. Kegelisahan itu tidak hanya melanda umat Non Muslim, tetapi juga mengundang ragam tafsir di kalangan umat Muslim sendiri. Perbedaan ini menjadi tidak elok jika diletakan dalam lembaran sejarah bangsa ini.

Bahkan nyaris saja perayaan Natal dan Tahun Baru menjadi larangan di negeri  yang bernama Indonesia. Segala ritual, tradisi, symbol-simbol, pernak-pernik Natal dan Tahun Baru sepertinya sudah dipandang sebagai ancaman atau gangguan bagi keyakinan agama lainnya.

Di ruang terbuka, rakyat sudah berdiskusi segampang-gampangnya tentang keyakinannya, tentang tafsir, tentang perjuangannya, tentang agamanya. Semuanya seperti menjadi bola liar yang ditendang ke sana kemari tanpa aturan di ruang media yang beragam. Ini tentu saja berbahaya, jika merujuk pada semangat kebangsaan, negara kesatuan, bhineka tunggal ika, dan kemanusiaan.

Lebih menyedihkan lagi, situasi itu sudah mengarah pada praktik-praktik menghakimi dengan menunjuk yang merayakan natal dan tahun baru, langsung atau tidak, adalah kafir. Padahal di ruang sosial dan peradaban hukum bangsa Indonesia tidak dikenal sebutan kafir. Hukum negara ini tidak memiliki pasal tentang kafir tidaknya seseorang.

Sebagai bangsa, kini kita sudah terseret jauh oleh arus kuat pembenaran keyakinan, pembenaran agama masing-masing. Keyakinan agama kita bela habis-habisan, tak peduli itu dibawa di jalanan, di mall-mall, di restoran-restoran. Apakah ini awal dari sebuah cerita peperangan antar agama ?  Jika benar, negara harus benar-benar hadir, tidak sekedar sebagai penyejuk, tetapi sebagai penegak hukum dan keadilan negara.

Kini di kalangan umat Kristen Indonesia sudah muncul pertanyaan, mengapa hal-hal yang terkait dengan tradisi perayaan natal dan tahun baru telah mengalami penolakan, pembatasan, bahkan pelarangan. Pertanyaan itu tentu saja diikuti dengan kegelisahan, kekhawatiran, dan ketakutan hidup beragama di negeri ini. Ketakutan dan kekhawatiran itu tentu memerlukan sikap pemerintah sebagai pengawal hidup bernegara bagi semua elemen bangsa.

Pandangan skeptik anak-anak bangsa Non Muslim kini mulai bermunculan terkait fatwa MUI dan aksi intoleran yang muncul belakangan ini. Anak bangsa Non Muslim kini gencar menuntut kehadiran negara pada situasi yang tidak lazim ini, pada kekhawatiran yang bisa berkepanjangan ini.

Terkait kegelisahan itu, paham kebangsaan Indonesia sebagaimana diatur dalam konstitusi kini menjadi tumpuan moral sosial, Kebhinekaan Indonesia kini menjadi pilar sandaran, Pancasila kini menjadi tiang penyangga, dan hukum negara kini menjadi payung pelindung.

Jika saja memang tuntutan zaman post modern ini, kita harus membangun sekat pemisah karena perbedaan keyakinan, maka itu berarti kita harus merubah fondasi kebangsaan Indonesia. Itu juga berarti kita harus merubah jalan sejarah bangsa ini, merubah bangunan pilar-pilar peradaban Indonesia.

Harga sebuah perbedaan yang mengabaikan prinsip-prinsip kebangsaan yang telah kita sepakati dan anut bersama memang terlalu mahal. Tetapi harga sebuah perbedaan yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebangsaan Indonesia tak akan ternilai, karena itulah kekayaan peradaban Indonesia.

Peradaban Indonesia dengan semua keragaman dan kekayaan budaya, tradisi, agama, etnis, dan perjalanan sejarahnya; janganlah dikecilkan dengan sebuah fatwa agama tertentu. Bangsa besar ini tidak hanya menjadi kerdil, tetapi akan punah jika abad-abad yang disediakan hanya terisi dengan pertikaian dan intoleransi.

Jika memang perayaan Natal dan Tahun Baru kali ini terlanjur diwarnai dengan fatwa MUI dan serangkaian aksi intoleransi, ini kiranya dapat menjadi catatan akhir tahun yang menguji kita untuk semakin kuat dalam perbedaan. Kita tidak punya cukup waktu berlama-lama tentang hal ini, sebab di seberang sana banyak bangsa telah melaju mencapai cita-cita karena keragamannya jadi kekuatan. Mereka telah selesai mengurus geragamannya.

Jika Indonesia ini sebuah taman, biarkanlah bunga bermekaran, biarkan kumbang berterbangan. Biarkan pula anak cucu kita menjadi pewaris taman dengan keragaman bunga yang indah semerbak harum.

Penulis : Joppie Worek

Tags: