BI Waspadai Kenaikan Bunga The Fed

JAKARTA, bagitu.com – Kebijakan menaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) tahun ini tetap diwaspadai Bank Indonesia (BI).

Perry Warjiyo

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. (Foto : dtc)

Dari pantauan Federal Open Market Committee (FOMC) yang sudah dilakukan beberapa waktu lalu, suku bunga the Fed diprediksi akan kembali naik dua kali dalam tahun ini.

Menurut Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo, prediksi ini membuat kondisi ekonomi global menjadi lebih kondusif di awal tahun ini.

“Ada kemungkinan tahun ini apakah Fed fund rate mau naik 3 kali, kemungkinan malah kembali naik dua kali, bulan Juni dan Desember,” jelas Perry di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (6/1/)

Sebelumnya kita perkirakan language FOMC sebelumnya tidak seperti itu. Sehingga itu membuat suasana yang lebih kondusif pada kondisi global, katanya.

Prediksi kenaikan ini dipercaya akan membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di awal tahun ini bergerak relatif stabil. Tapi dalam beberapa hal sedikit menguat di tengah kondisi global yang memang masih tidak menentu.

Perry mengatakan, pengaruh pemilihan Presiden di AS masih akan terus dipantau oleh Bank Indonesia.

“Tak hanya itu, BI bahkan akan terus memantau proses pengambilan sumpah maupun rencana-rencana kebijakan Presiden baru AS dan dampaknya terhadap ekonomi global dan pasar keuangan AS,” jelasnya.

Namun, bila dilihat dari sejumlah kondisi perekonomian global saat ini, suku bunga Bank Indonesia diprediksi masih memiliki ruang untuk turun.

“Tapi kita harus kaliberasi kenaikan dari administered prices itu. Tapi dari kondisi global yang tidak menentu itu kenapa kemudian BI kemarin memutuskan untuk BI 7 days repo rate 4,75,” ungkapnya.

Dan memang BI lebih mengarahkan kebijakan suku bunga, nilai tukar dan juga terkait dengan mengenai surveilance di sistem keuangan lebih kepada arahnya menjaga stabilitas makro dan sistem keuangan, kata Perry.

Saat ini, BI akan tetap mengandalkan instrumen baurannya yang lain untuk menjaga pertumbuhan. Istrumen baurannya yakni bagaimana mengendorkan likuiditas untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit. Kemudian melihat dampak relaksasi makroprudensial yang saat ini tengah dilakukan.

“Ini yang kita maksud membalas antara kepentingan stabilitas dan pertumbuhan, dengan melihat bagaimana risiko dalam negeri rencana kenaikan administered prices dan risiko di globalnya,” pungkasnya.

Penulis : Simon Siagian.

Rate this article!
Tags:
author

Author: