Teknologi Lawas Ini Diklaim Lebih Canggih dan Murah Daripada Teknologi Satelit

Panel White Alice di Alaska (net)

BAGITU – Tahukah anda bahwa jauh sebelum ada teknologi komunikasi berbasis internet, sudah ada sebuah teknologi komunikasi yang jauh lebih canggih dan murah? Saat ini teknologi informasi dan komunikasi berkembangan sangat pesat. Itu berkat jaringan internet sangat diminati masyarakat dunia. Apalagi saat ini sudah banyak teknologi internet yang menggunakan satelit sebagai alat utama transmisi frekwensi.

Satelit yang dikenal sebagai buatan manusia yang bisa menembus langit hingga ketinggian mencapai 1200 sampai 1400 kilometer di atas permukaan bumi. Satelit dikenal dengan kegunaannya untuk komunikasi, navigasi, prediksi cuaca, dan banyak lagi. Sebab itu, banyak perusahaan besar rela menghabiskan uang jutaan dollar AS untuk pengadaan satelit sebagai penunjang kinerja telekomunikasi.

Dengan menjadi sebuah tren dalam teknologi komunikasi, maka negara-negara besar mulai menaikan gengsi dengan memborong satelit untuk kepentingan negara masing-masing. Bahkan negara berkembang seperti Indonesia sudah memiliki 20 satelit namun yang beroperasi hingga kini tinggal 18 satelit. Tahun 2016 ini Indonesia meluncurkan satelit terbarunya bernama BRISat milik Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Teknologi satelit berawal dari peluncuran satelit milik Rusia bernama Sputnik pada tahun 1957. Kemudian Amerika Serikat yang sedang perang dingin dengan Rusia mulai merasa tersaingi. AS kemudian meluncurkan satelit pertama mereka bernama Apollo pada tahun 1959. Dari pendaratan Apollo di bulan inilah kemudian merubah dunia khususnya teknologi informasi dan komunikasi dan sains.

Namun sebenarnya, teknologi informasi dan komunikasi sudah maju sebelum adanya satelit. Coba kita pikirkan, bagaimana cara militer jaman Perang Dunia II berkomunikasi? Bagaimana cara mereka melakukan navigasi pesawat tempur? Perang Dunia II bahkan berlangsung tahun 1940-an dan waktu itu belum ada satelit untuk komunikasi dan navigasi.

Ternyata militer jaman Perang Dunia II menggunakan teknologi canggih untuk navigasi darat, laut maupun udara. Teknologi itu bernama Long Range Navigation (LORAN). Teknologi LORAN kemudian berkembang menjadi Omega Navigation System (ONS) yang sudah digunakan semua negara maju pada tahun 1940-an. Teknologi inilah yang digunakan Jepang sebagai pemandu titik koordinat dengan tepat dan akurat. Dengan teknologi ini Jepang tercatat dalam sejarah dengan menghancurkan pangkalan militer AS di Hawaii (Pearl Harbour).

Cara kerja LORAN/ONS yaitu dengan memanfaatkan gelombang radio yang dipantulkan ke langit. LORAN/ONS menghubungkan seluruh dunia hanya dengan 8 buah menara yang letaknya diberbagai penjuru dunia. 8 menara ini yang memantulkan maupun menangkap gelombang radio atau singal. Sedangkan setiap militer negara memiliki gelombang radio masing-masing. Dan disetiap pesawat tempur, kapal perang, dan bahkan sampai ke tingkat regu militer memiliki pesawat radio berbasis LORAN/ONS untuk komunikasi.

Jadi, setiap negara bisa saling menyadap gelombang radio. Namun sayangnya, pihak yang sedang terlibat perang tidak akan menggunakan bahasa yang diketahui lawannya. Sedangkan secara internasional, militer memiliki bahasa bersama yang kita kenal dengan SOS dan sandi alfabet. Mungkin kita yang sudah berumur 25 tahun keatas pasti masih ingat dengan pelajaran sekolah atau Pramuka tentang sandi alfabet internasional.

Coba ingat kembali, pasti kita pernah ditugaskan oleh pembina Pramuka di sekolah untuk menghafal berbagai macam sandi dan kode. Salah satu sandi itu adalah sandi alfabet internasional. A (alfa), B (Betha), C (Charlie), dan seterusnya. Itulah sandi militer internasional jaman Perang Dunia II. Dan itulah yang digunakan dalam teknologi LORAN/ONS. Kelemahan teknologi LORAN/ONS ini adalah bisa disadap pihak lawan. Walau tidak mengerti basaha yang digunakan lawan, mereka bisa mencari orang yang bisa dibayar untuk menerjemahkan bahasa lawan.

Sputnik, satelit pertama di dunia buatan Rusia. (net)

Berawal dari kelemahan teknologi LORAN/ONS itulah kemudian militer AS mengembakan sebuah teknologi yang lebih canggih lagi. Teknologi ini sebenarnya bisa dibilang lebih canggih dan lebih murah daripada teknologi berbasis satelit. Tidak percaya? Coba pikirkan bagaimana militer AS bisa ditakuti seluruh dunia? Mereka sangat ditakuti karena memiliki teknologi ini, bukan bom atom yang menghancurkan Jepang. Jadi, yang menguasai dunia pada jaman itu adalah yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi, bukan yang menguasai kecanggihan teknologi transportasi dan sistem persenjataan seperti Jerman.

Teknologi itu bernama White Alice yang pertama kali digunakan tahun 1955 oleh Angkatan Udara AS. Namum White Alice menjadi sebuah rahasia yang tidak diketahui dunia, kecuali militer dan pemerintah AS sendiri. White Alice diklaim tidak bisa disadap dan itu terbukti menjadikan AS negara dengan komunikasi militer paling canggih di dunia. Kecanggihan White Alice selain tidak bisa disadap adalah bisa melakukan panggilan suara-gambar, bahasa gaul saat ini adalah video call. White Alice mampu melakukan panggilan suara, kirim pesan singkat, dan bahkan video call ke seluruh penjuru dunia.

Jika anda berpikir bahwa teknologi video call itu adalah kekinian, maka anda salah besar. Tahun 1955 sudah ada video call dengan teknologi White Alice. Cara kerja White Alice sebenarnya sama saja dengan LORAN/ONS yaitu dengan memantulkan signal ke langit. Namun bedanya, White Alice tidak menggunakan menara-menara tapi menggunakan panel lengkung (seperti parabola tapi bentuknya persegi) yang di arahkan ke berbagai penjuru. Juga sistem transmisi signal yang dirancang sedemikian rupa sehingga mampu mengirimkan data dengan kapasitas besar dan dengan kecepatan tinggi. Bisa jadi teknologi White Alice memiliki kecepatan yang lebih tinggi dibanding teknologi 4G-LTE yang lagi tren saat ini.

Teknologi White Alice mulai redup ketika Rusia mencatat sejarah dengan meluncurkan satelit Sputnik. AS mulai merasa tersaingi, mereka meluncurkan satelit Apollo dan mengatakan bahwa satelit Apollo berhasil mendarat di bulan. Sejak saat itu teknologi White Alice kehilangan pamor. AS kemudian mendirikan Badan Antariksa Nasional (NASA) yang berkecimpung di dunia luar angkasa. Negara-negara maju lainnya mulai tertarik dengan satelit.

Ada kabar yang mengatakan bahwa White Alice masih digunakan militer AS. Bahkan hingga detik ini teknologi White Alice masih digunakan beberapa negara. Salah satu negara yang dicurigai menggunakan teknologi White Alice adalah Iran. Mereka terkena embargo internasional karena dituduh melakukan pengembangan nuklir untuk persenjataan militer secara ilegal (tanpa persetujuan PBB). Dalam kondisi terkena embargo, Iran dikabarkan masih bisa melakukan penerbangan dalam negeri tanpa menggunakan sistem navigasi udara internasional dan bisa melakukan komunikasi jarak jauh tanpa bisa disadap.

Di AS sendiri, teknologi White Alice ternyata masih terus dikembangkan. Teknologi yang menjadi rahasia militer AS ini dikabarkan telah bertransformasi dan berganti nama menjadi Tropospheric Scattering. Ternyata White Alice masih menjadi andalan militer AS yang belum tergantikan oleh teknologi satelit. Namun sayangnya, kita masyarakat sipil tidak bisa menikmati teknologi White Alice. Ingin mencoba teknologi White Alice yang lawas dan legendaris ini? Mungkin anda bisa mendaftar jadi militer AS.

Penulis: Leon Manua

Tags:
author

Author: