Apa itu Tembakau Gorilla? Ini Penjelasannya

Waspada, narkoba jenis baru Tembakau Gorilla. (foto:bnn)

Bagitu.com— Beberapa hari belakangan kita makin sering mendengar istilah tembakau Gorilla. Apakah tembakau Gorilla itu sama dengan tembakau yang ditaruh di dalam rokok? Kenapa disebut tembakau Gorilla? Apakah Tembakau Gorilla masuk dalam jenis Narkoba? Bagitu.com menjelaskan untuk anda.

Tembakau ini di pasaran sering disebut tembakau super, ada yang menyebut cap gorilla ada juga yang menyebut tembakau kingkong atau di kalangan pemakai disebut Gors. Sebenarnya tembakau gorilla adalah tembakau biasa seperti yang ada di rokok pada umumnya. Namun, tembakau tersebut kemudian dicampurkan dengan bahan synthetic cannabinoids (AB-CHMINACA) bersama bahan kimia apesiminika. Bahan sintetis tersebut kini digolongkan sebagai Narkoba jenis baru.

Synthetic cannabinoids atau biasa disebut marijuana sintetis/ ganja sintetis merupakan campuran jenis-jenis narkoba yang diimpor masuk ke Indonesia. Narkoba ini muncul sejak tahun 2007 dan terkenal dengan nama ekstasi herbal atau pun pensil hiperasin. Di luar negeri narkoba jenis ini dikenal dengan istilah Spice dan K2.

Dalam dunia medis, cannabinoids ini diperlukan untuk terapi memperlambat proses neurodegenerasi pada penyakit alzheimer. Selain itu juga berguna untuk pengobatan stres karena senyawa cannabinoids bekerja cepat setelah menembus blood barrier yaitu filter darah yang masuk ke otak.

Ganja sintetis ini mengandung tetrahydrocannabinol (THC) seperti tanaman marijuana/ ganja. Hanya saja sumbernya bukan dari ekstraksi marijuana/ ganja melainkan lewat proses kimia di laboratorium.

Efek yang dirasakan saat menghisap tembakau jenis ini adalah seperti ditimpa oleh seekor gorila besar. Pemakai seperti tidak bisa bergerak dan menimbulkan halusinasi. Orang yang ngegors  yang sudah terbiasa akan muncul perasaan bahagia, rileks dan bahkan suka ketawa-ketawa sendiri.

Efek negatif yang dihasilkan tembakau gorilla ini dapat mengancam nyawa manusia antara lain perasaan cemas yang sangat tinggi, detak jantung sangat cepat dan tekanan darah tinggi, mual dan muntah, kejang otot dan tremor, halusinasi intens dan gangguan psikotik, dan perasaan ingin bunuh diri dan atau melakukan tindakan yang berbahaya.

Harga tembakau merk Gorilas dibanderol Rp400 ribu per 10 gram. Ukuran tersebut bisa dijadikan lebih dari 10 linting ukuran rokok kecilKonsumennya dominan dari kalangan anak muda terutama mahasiswa dan pelajar. Harga ini terbilang lebih murah dibandingkan dengan ganja ataupun Sabu. Peredaran tembakau Gorilla juga lebih banyak di media sosial.

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 yang mengatur tentang Narkotika belum mencantumkan synthetic cannobinoids sebagai salah satu jenis narkotika ataupun prekursor dalam lampirannya. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen (Pol) Budi Waseso tersebut telah mengusulkan kepada kementerian kesehatan agar ganja sintetis ini masuk dalam lampiran UU No 35 Tahun 2015.

Hingga kini BNN telah menemukan 36 narkotika dan obat-obatan adiktif jenis baru yang telah beredar di masyarakat. Dari hasil uji Laboratorium BNN, ke-36 zat baru tersebut adalah New Psychoactive Substances (NPS) yang bisa disebut masuk dalam jenis narkotika jenis baru. Dari ke-36 NPS tersebut ada 18 jenis yang sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 13 Tahun 2014 yang masuk dalam kategori Golongan I.

Penulis: Franky Tangkudung

Tags: