Ini Penjelasan Mengapa Narkoba Menyebabkan Orang Jadi Bodoh

JAKARTA – Dalam beberapa kali penyampaiannya dalam sebuah kegiatan ataupun kepada media massa, Panglima TNI Republik Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan narkoba sebagai ancaman terhadap Indonesia. Ia menegaskan bahwa candu narkoba akan membuat sebuah negara hancur karena narkoba membuat generasi penerus bangsa menjadi bodoh.

Berdasarkan catatannya dua persen penduduk Indonesia atau 5,1 juta merupakan pengguna narkoba. Selanjutnya setiap tahun ada 1.500 orang dengan usia produktif meninggal dunia karena narkoba. Catatan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri, pada tahun 2013 ada 542 kilogram sabu dari luar negeri masuk ke Indonesia. Setahun kemudian jumlah itu bertambah menjadi sekitar 1,1 ton. Jumlah itu cukup untuk dikonsumsi 5,5 juta warga.

Ilustrasi; narkoba membuat bodoh dan membunuh generasi muda Indonesia. (net)

Pada tahun 2016 narkoba yang ada di Indonesia berkisar 4,5 ton. Jumlah itu cukup untuk digunakan 20,2 juta warga. Cukup untuk ‘membunuh’ generasi penerus Indonesia karena narkoba membuat anak muda menjadi bodoh. Benarkah?

Memang banyak yang tidak percaya bahwa orang yang menggunakan narkoba akan ‘menjadi bodoh’. Memang ketika baru mencoba-coba narkoba, efek itu belum akan terjadi namun jika sudah berkali-kali menggunakan alias kecanduan maka ‘kebodohan’ itu pasti terjadi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bodoh itu artinya tidak lekas mengerti; tidak mudah tahu atau tidak dapat (mengerjakan dan sebagainya). Bodoh juga artinya tidak memiliki pengetahuan (pendidikan, pengalaman). Orang yang berpendidikan tinggi pun bisa menjadi bodoh karena menggunakan narkoba.

Bukan hanya jenis ganja atau sabu, semua yang tergolong narkotika menyebabkan orang ‘menjadi bodoh.’ Bodoh bukan karena ‘tergoda’ mencoba barang haram jenis narkoba tetapi ‘bodoh’ karena kinerja otak akan atau sudah pasti terganggu.

Cara kerja narkoba sebenarnya terkategori kejam. Perlahan tapi pasti. Narkoba sebenarnya tidak mengubah perilaku seseorang tetapi ia terlebih dahulu mempengaruhi kinerja otak baru mengubah perilaku orang. Jika seseorang menggunakan narkoba maka otaknya sebagai pusat kendali tubuh akan terganggu. Jika otak terganggu maka bukan hanya cara berpikir sampai syaraf dan organ tubuh lain bisa ikut terganggu.

Orang menggunakan narkoba karena ingin ‘merasakan seperti apa itu surga’. Penguna narkoba disebut juga orang-orang yang senang jalan pintas dan tidak menghargai proses hidup karena lebih suka berfantasi. Mereka tidak bisa merasakan ‘kemenangan’ ketika bisa menyelesaikan masalah. Pengguna narkoba tidak bisa merasakan indahnya kasih sayang keluarga, teman, sahabat bahkan orang yang tidak dikenal. Sudah merupakan hukum alam ketika seseorang menghadapi masalah akan ada orang lain yang menolongnya. Pasti ada. Inilah yang tidak diketahui para pengguna narkoba. Mereka cenderung cepat putus asa dan menyerah pada keadaan.

Narkoba jelas membuat orang menjadi bodoh. Ketika mengkonsumsi narkoba seseorang akan mengalami perubahan suasana perasaan, berubah cara berpikir, berubah tingkat kesadaran otomatis perilakunya. Itulah mengapa narkoba disebut sebagai zat psikoaktif.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa dalam sel otak terdapat bermacam-macam zat kimia atau disebut neurotransmitter. Zat kimia ini menghubungkan semua sel saraf (sinaps) yang ada pada tubuh seorang manusia.

Zat neurotransmitter itu mirip dengan ‘cara kerja’ beberapa jenis narkoba. Efek dari kelebihan pengunaan zat-zat tersebut yaitu dapat mengubah perilaku, perasaan bahkan pikiran seseorang. Narkoba mengubah fungsi zat neurotransmitter dan terjadilah ketergantungan.

Bagian otak yang menentukan perasaan seseorang disebut juga sistem limbus. Sistem limbus adalah memiliki bagian yang disebut hipotalamus yang disebut juga pusat kenikmatan. Nah, jika narkoba masuk ke tubuh, melalui proses telan, hirup, ataupun suntik maka narkoba langsung mengubah susunan biokimiawi neurotransmitter pada sistem limbus itu. Hal inilah yang menyebabkan produksi dalam tubuh terganggu bahkan bisa terhenti sehingga harus selalu membutuhkan ‘asupan’ narkoba dari luar.

Banyak yang menyebut jika ketergantungan narkoba membuat daya tahan tubuh turun. Hal ini jelas terjadi hanya saja daya tahan yang dimaksudkan dari proses perubahan sel-sel otak bukan proses kimiawi saluran pencernaan.

Jika sudah lebih dari satu kali mengkonsumsi narkoba maka otak akan merekamnya sebagai sesuatu yang harus didapatkan. Otak mencarinya sebagai prioritas karena hal itu direkam sebagai hal yang menyenangkan. Artinya, otak sudah membuat program yang salah atau tidak normal; otak sudah menempatkan narkoba sebagai kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.

Hal inilah yang menyebabkan orang harus selalu memakai narkoba, memiliki uang untuk membeli narkoba, menghalalkan semua cara untuk mendapatkan narkoba, termasuk berbuat kriminal seperti mencuri, membunuh dan korupsi. Narkoba membodohi orang bukan? Karena itu jangan pernah coba-coba apalagi menjadi pecandu narkoba. Say no to drugs!

 

Penulis: Yudith Rondonuwu.

Tags: