Inilah Bentuk Bumi Menurut Auguste Piccard, Ilmuwan Pertama Yang Terbang Menembus Atmosfer

piccard

Auguste Piccard memasuki balon udara buatannya yang digunakan untuk penelitian dan pengamatan lapisan atmosfer. (Dok. Bettrand Piccard)

BAGITU – Perdebatan tentang bentuk bumi seperti bola atau datar merupakan perdebatan klasik melampaui perdebatan tentang ide dan materi dalam lingkup filsafat maupun perdebatan tentang rasio dan empirik dalam tataran pengetahuan. Semua perdebatan itu tidak lepas dari pengaruh kepercayaan yang lebih kuat dari pengetahuan.

Ketika semua hal yang dipercaya harus diperkuat dengan adanya bukti, maka kemudian lahirlah sains yang kita pelajari hingga saat ini. Tujuan sains sangatlah kompleks dan relatif, apakah itu untuk kemajuan peradaban manusia ataukah untuk merubah tatanan kepercayaan manusia. Salah satu standar kebenaran sains adalah bukti secara rasional, apakah masuk akal atau tidak, ataukah bukti secara empiris, apakah nyata atau tidak.

Setelah berlangsung sangat lama, perdebatan tentang bentuk bumi yang sebenarnya mendapat sebuah pembuktian secara sains oleh seorang ilmuwan bernama Auguste Piccard. Dengan bertujuan untuk meneliti lapisan atmosfer bumi dan sinar kosmik, Piccard membuat balon udara untuk meneliti langsung lapisan atmosfer dan sinar kosmik pada tempatnya, yaitu diketinggian langit.

Piccard adalah seorang fisikawan berkebangsaan Swiss yang lahir di Basel pada 28 Januari 1884 dengan nama lengkap Auguste Antoine Piccard, sedangkan saudara kembarnya bernama Jean Felix Piccard. Semasa hidupnya, Piccard mengabdikan diri dengan menjadi profesor ilmu fisika di Free University of Brussel. Selain dikenal sebagai seorang fisikawan, Piccard juga dikenal sebagai seorang penjelajah karena kebiasaannya menjelajahi berbegai tempat untuk mempelajarinya.

Auguste Piccard

Auguste Piccard dan rekannya Paul Kipfer mengembangkan balon udara dengan sebuah ruang kendali berbentuk bola berbahan alumunium yang ukurannya cukup untuk mengangkut mereka berdua beserta kebutuhan logistik dan peralatan secukupnya. Balon udara bertenaga panas ini kemudian diterbangkan pada 27 Mei 1931 Ausburg, Jerman. Pada penerbangan pertama ini balon udara buatan Piccard dan Kipfer mampu mencapai ketinggian 15.781 meter di atas permukaan bumi atau sekitar 10 mil.

Proses penjelajahan langit dengan balon udara serta hasil temuan Piccard ini kemudian dipublikasikan oleh majalah Popular Science pada edisi Agustus 1931 halaman 23 dengan judul “Ten Miles High in an Air-Tight Ball“. Pada artikel singkat itu bertuliskan bahwa balon udara berwarna kuning itu bukannya membawa sebuah keranjang, namun membawa sebuah bola alumunium berwarna hitam-silver yang kedap udara.

Popular Science menuliskan bahwa balon udara Piccard ini berhasil terbang dengan ketinggian 52.000 kaki atau hampir mencapai 10 mil di atas permukaan bumi. Hal itu disebutkan telah mematahkan rekor ketinggian penerbangan sebelumnya.

Majalah “Popular Science” Edisi Agustus 1931, Halaman 23 yang memuat kesaksian Auguste Piccard saat melakukan pengamatan atmosfer pada ketinggian mendekati 10 mil di atas permukaan bumi.

Popular Science juga menuliskan beberapa temuan Piccard setelah melakukan pengamatan langsung dari lapisan atmosfer diketinggian tersebut. Disebutkan bahwa Piccard menemukan sinar kosmik serta radiasi misterius dari luar angkasa yang jauh lebih kuat daripada radiasi di permukaan bumi dan terukur intensitasnya.Piccard juga melakukan pengambilan sampel udara pada lapisan atmosfer tersebut sebagai bahan penelitian.

Namun belum sempat puas melakukan pengamatan, tiba-tiba bola alumunium yang menjadi kabin itu bocor. Dengan bersusah-payah Piccard dan Kipfer mencoba menambal kebocoran dengan menggunakan vaseline dan limbah kapas. Akibat kebocoran itu, balon udara justru mengalami perubahan tekanan yang membuat balon semakin naik sehingga ketinggian melebihi 9 mil dalam waktu setengah jam pertama.

Pada saat itulah Piccard dan Kipfer melihat pemandangan yang unik dari balik jendela kecil di bola alumunium itu. Popular Science mencatat kesaksian Piccard dan Kipfer sebagai berikut:

Through  portholes, the observers saw the earth through copper-colored,then bluish, haze. It seemed a flat disk with upturned edge. At the ten mile level the sky appeared a deep dark blue.

Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, kutipan kesaksian dari Piccard dan Kipfer yang dicatat oleh Popular Science adalah sebagai berikut:

Melalui lubang pengintip (jendela kecil), para pengamat (Piccard dan Kipfer) melihat bumi berwarna tembaga, kemudian kebiru-biruan, berkabut. Tampak seperti sebuah disk datar dengan tepian yang menengadah. Pada ketinggian sepuluh mil langit muncul biru gelap yang pekat.

Penggalan Kesaksian Auguste Piccard pada Majalah “Popular Science” tentang bentuk bumi yang dilihatnya secara langsung.

Kesaksian dari ilmuwan seperti Piccard tentang bentuk bumi yang katanya seperti “disk datar dengan tepian yang menengadah” tentu menjadi referensi ilmiah bagi para penganut bumi datar. Sebab Piccard melihat langsung dengan mata telanjang, tanpa bantuan kamera ataupun alat optik lainnya. Sedangkan diketinggian 10 mil di atas permukaan bumi, jika dengan percaya bahwa bumi itu berbentuk bola, maka seharusnya Piccard mengatakan bahwa dia melihat lengkungan bumi serta lengkungan horizon langit.

Namun faktanya Piccard berkata hal yang berbeda dengan pelajaran kita sejak di bangku Sekolah Dasar. Memang Piccard terbang ke lapisan atmosfir yang tinggi bukan untuk membuktikan bahwa bumi ini berbentuk bola ataupun datar, tapi Piccard melihat bentuk bumi dalam keadaan tiba-tiba. Dengan kata lain, Piccard tidak merencanakan untuk melihat bentuk bumi dari ketinggian itu. Sehingga secara gamblang Piccard menyampaikan apa yang dilihatnya itu sebagai sebuah fakta ilmiah yang sudah teruji melalui pengamatannya secara tidak sengaja.

Dari tulisan Popular Science tentang kesaksian Piccard tersebut tampaknya pada tahun 1931 masih banyak orang-orang yang percaya bahwa bumi berbentuk datar sehingga kesaksian Piccard tentang bumi yang berbentuk seperti disk datar itu adalah sebuah hal yang biasa-biasa saja. Sedangkan pada zaman sekarang, kesaksian Piccard itu menjadi sebuah referensi ilmiah yang didukung dengan dokumen bagi penganut bumi datar untuk membantah teori bumi bola yang sudah menjadi ajaran sains paling mendasar saat ini.

Sampai saat ini nama seorang Auguste Piccard masih tercatat dalam buku-buku fisika sebagai seorang ahli dengan berbagai hasil temuannya. Namun tentang temuan mendadak dari Piccard tentang bentuk bumi mungkin tidak ada dalam buku-buku fisika saat ini. Apalagi kesaksian Piccard tersebut bertentangan dengan dogma atau ajaran fisika modern yang mengatakan bahwa bumi adalah sebuah planet berbentuk seperti bola.

Penulis: Leon Manua.

Tags:
author

Author: