by

Sangihe Cermin Pilkada Sitaro dan Talaud

Fakta politik yang terjadi salah satu Kabupaten Nusa utara yakni Kabupaten Kepulauan Sangihe pada Pilkada serentak tahun 2015, adalah bukti menyatunya kekuatan rakyat untuk kepentingan bersama. Jabes Ezar Gaghana, SE, ME (JEG) dan Helmud Hontong, SE (HH), dengan konsep politik Megahago, mampu memenangkan pertarungan melawan Drs. Hironimus Rompas Makagansa, MSi (HRM) yang berpasangan dengan dr. Fransiscus Silangen, SpB, KBD. HRM, pada saat sebagai Bupati Kepulauan Sangihe tak mampu membendung kekuatan rakyat.

Megahago, ‘Ambil uangnya jangan pilih orangnya’, sebuah strategi yang sangat jitu dalam melawan strategi politik uang. Konsep ini dinilai sangat baik sebagai bentuk menentang para politisi yang mengandalkan kekuatan uang untuk meraih suara dalam pertarungan politik. JEG-HH telah membuktikan bahwa kesederhanaan dan ketulusan hati membangun Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan konsep politik Megahago mampu meraih simpati dan juga empati rakyat. Rakyat Sangihe disemua lini secara sukarela memberikan dukungan penuh kepada JEG-HH, bukan hanya dukungan moril tetapi dana. Bahkan sampai dengan syukuran kemenangan, rakyat berinisiatif menggelar acara dengan swadaya masyarakat.

“Kabupaten Talaud yang akan menggelar pesta demokrasi, Pilkada serentak pada tahun 2018, hendaknya bercermin dari Pilkada Kepulauan Sangihe. Masyarakat Talaud harus mampu bersatu untuk menolak politik uang di Bumi Poridisa, demi kemajuan daerah Talaud kedepan,” ungkap Sekretaris Gerakan Masyarakat (Gema) Porodisa Kota Bitung, Jerry Lumare, Senin (14/8), kepada┬ádodoku.net.

Ia melanjutkan, konsep Politik Megahago memiliki roh kekuatan rakyat yang menginginkan kemajuan dan tak ingin terjebak dalam politik pragmatis. Politik uang hanya menjanjikan kenikmatan sesaat tetapi dibalik itu membawa penyesalan selama lima tahun kedepan. “Tentunya sebagai masyarakat Talaud kita tidak ingin terbuai dengan janji palsu yang membawa kesengsaraan di bumi Porodisa, tetapi kita ingin kemajuan disegala bidang,” tegasnya.

Hal senada juga dikatankan oleh Hanny Limbe, SH, masyarakat Sitaro. “Demi kemajuan Kabupaten Sitaro, masyarakat harus menyatukan persepsi secara tegas menolak politik uang yang telah menjadi tradisi dalam setiap pesta demokrasi, karena Politik uang adalah pendidikan politik yang keliru terhadap masyarakat dan hanya akan merusak mental elit politik serta rakyat itu sendiri,” ujar Limbe.

Menurutnya, JEG-HH telah meletakan dasar sebuah fakta politik yang mampu menggugah kesadaran rakyat untuk melihat kepentingan daerah secara utuh diatas kepentingan pribadi maupun golongan tertentu. Megahago adalah demonstrasi politik dalam pesta demokrasi yang dimenangkan oleh rakyat.

“Inilah action politik bersih dan harus menjadi contoh bagi elit politik dan masyarakat, khususnya yang akan berdemokrasi dalam Pilkada serentak 2018, merebut simpati rakyat bukan hanya dengan uang tapi bagaimana para kandidat mampu menunjukan kesungguhan hati serta komitmen yang kuat untuk kemajuan daerah,” pungkasnya. (JO)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *